Dampak Emisi Karbon Yang Tidak Disadari Kerap Dilakukan

Labmate tentu tidak asing dengan istilah emisi karbon, berdekatan dengan hari lingkungan hidup dunia, kali ini kami akan membahas tentang emisi karbon. Apa yang dimaksud dengan emisi karbon, pengaruhnya dalam kehidupan sehari – hari kita, dan bagaimana membangun kebiasaan yang berkesadaran lingkungan?

Emisi karbon adalah gas hasil pembakaran senyawa yang mengandung karbon, seperti CO2, solar, LPG, dan bahan bakar lainnya. Dalam arti sederhana, emisi karbon adalah pelepasan karbon ke atmosfer. Aktivitas kita sehari – hari berkaitan erat dengan emisi karbon, jika menghitung jumlah populasi manusia saat ini yang mencapai hampir 7 juta penduduk dunia, masing – masing dari kita sebagai individu memiliki aktivitas yang menghasilkan emisi karbon, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu, bukanlah suatu hal yang pasif jika upaya untuk mengurangi emisi gas karbon sudah barang tentu dipengaruhi oleh kebiasaan hidup kita sehari – hari.

Salah satu contoh yang sering kita temui pada masyarakat Indonesia adalah kegiatan membakar sampah baik itu sampah organik maupun sampah anorganik. Membakar sampah adalah aktivitas yang melepas gas hasil pembakaran ke atmosfer, jika dilakukan oleh hanya satu orang tentu saja alam memiliki caranya sendiri dalam mengolah hasil limbah pembakaran tersebut, akan tetapi, bayangkan jika separuh masyarakat indonesia melakukan aktivitas membakar sampah, tentu saja akan ada dampak kumulatif dari kegiatan pembakaran sampah.

Contoh lain dari aktivitas kita sehari – hari yang menghasilkan emisi karbon adalah kebiasaan membuang makanan. Bagaimana bisa membuang makanan menjadi satu hal yang merugikan bagi lingkungan? Membuang makanan memiliki dampak terhadap lingkungan, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Kegiatan produksi makanan membutuhkan energi, mulai dari proses penanaman bahan baku, pengolahan bahan baku, sampai pada proses distribusinya. Energi apa yang menghasilkan emisi karbon? Tentu saja kita cukup mengenal listrik, bahan bakar minyak dan gas, industri pangan membutuhkan energi untuk dapat memproduksi makanan. Makanan yang sampai di meja makan kita mempunyai jejak emisi karbon.

Bagaimana dengan hasil makanan yang tidak sempat kita konsumsi atau terbuang? Makanan yang tidak sempat kita konsumsi akan menjadi food waste atau sampah makanan, penguraian hasil sampah makanan tersebut menghasilkan gas – gas yang dapat membahayakan lingkungan. Dalam jumlah yang besar, sampah makanan yang terurai dapat menghasilkan ledakan gas, seperti yang seringkali terjadi di beberapa Tempat Penampungan Sampah. Oleh karena itu, kebiasaan sehari – hari kita berdampak bagi lingkungan.

Lalu, kebiasaan apa saja yang dapat membantu mengurangi emisi karbon? Untuk dapat menjadi suatu budaya, maka kita perlu membangun kebiasaan – kebiasaan kecil yang berdampak postif terhadap lingkungan. Sebagai contoh;

Aenean ac erat nulla. Phasellus et dolor varius, fermentum nisi quis, blandit nunc. Vestibulum eu feugiat felis. Mauris ut aliquam dui, eget cursus velit. In convallis quam vitae nulla auctor mollis. Nulla sit amet mauris nisi. Interdum et malesuada fames ac ante ipsum primis in faucibus. Nullam quis eros maximus, fringilla arcu sit amet, consequat purus. Donec dignissim venenatis velit, non scelerisque sapien faucibus quis. Maecenas id urna pulvinar, consectetur nibh ut, sodales ligula. Suspendisse eleifend tellus ac orci dapibus, ac egestas enim imperdiet. Vestibulum interdum ante non nisi dignissim rhoncus. Nunc a sapien massa. Nulla facilisi.

  1. Meminimalisir kebiasaan membuang makanan. Kita dapat memulai dengan mengambil makanan secukupnya, dan jika harus membuang makanan, maka alangkah lebih baiknya memisahkan sampah makanan dengan sampah bukan makanan. Sampah makanan dapat diolah menjadi pupuk.
  2. Tidak membakar sampah. Kebiasaan membakar sampah jelas perlu dihindari selain membahayakan lingkungan, gas hasil pembakaran sampah plastik dapat membahayakan Kesehatan manusia. Langkah lain yang dapat ditempuh selain membuang sampah di pembuangan sampah kolektif adalah berpartisipasi dengan komunitas daur ulang sampah yang ada di lokasi sekitar tempat tinggal. Selain dapat mengurangi emisi karbon, sampah plastic dapat dibuat menjadi kerajinan ataupun benda – benda daur ulang lainnya.
  3. Menghemat pemakaian listrik dan air. Pemakaian listrik dan air dalam aktivitas rumah tangga, seringkali dianggap sepele. Kebiasaan membiarkan charger handphone ataupun perangkat elektronik lainnya, saat sedang tidak digunakan merupakan salah satu Tindakan pemborosan energi. Oleh karena itu, pastikan melepas stack charger alat elektronik anda setelah digunakan.
  4. Mematikan mesin kendaraan saat mengantri di SPBU. Mematikan mesin kendaraan saat sedang mengisi bahan bakar di SPBU merupakan suatu anjuran. Selain untuk meminimalisir potensi resiko kebakaran di SPBU, mematikan mesin kendaraan juga merupakan kebiasaan mengefisienkan penggunaan bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil selain menghasilkan emisi karbon penyebab efek rumah kaca, bahan bakar fosil juga merupakan sumber energi yang tidak dapat diperbaharukan. Oleh karena itu, mengefisienkan penggunaan bahan bakar fosil harus menjadi perhatian utama.

Jangan lupa, membangun kesadaran diperlukan proses dan kesabaran, oleh karena itu, Labmate dapat memulai dengan hal – hal kecil yang menjadi pondasi kebiasaan baru dalam meningkatkan kesadaran lingkungan. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">html</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*