Es Krim Häagen-Dazs Mengandung Etilen Oksida? Ketahui Cara Deteksi Etilen Oksida Pada Bahan Makanan

Pada Juli 2022 lalu, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) resmi mengumumkan adanya penarikan izin edar es krim Häagen-Dazs varian rasa vanilla. Hal ini didasarkan pada informasi yang dikeluarkan oleh European Union Rapid Alert System for Food and Feed (EURASFF) tentang adanya kandungan Etilen oksida pada es krim Häagen-Dazs dengan flavour vanilla varian pint dan mini cup untuk kemasan 100 ml dan 473 ml yang diimpor dari Prancis dengan  kadar melebihi batas yang diizinkan oleh Europian Union (EU).  

Sejak tahun 2020, isu terkait penggunaan Etilen Oksida pada bahan makanan telah ramai diperbincangkan di sejumlah negara di Eropa. RASFF mempublikasi adanya temuan residu Etilen Oksida pada biji wijen yang berasal dari India dengan kadar 186 mg/kg.

Komite EU telah melarang penggunaan Etilen Oksida pada bahan tambahan makanan dengan limit kuatifikasi (LOQ)  di atas 0,1 mg/kg. Keputusan ini dibuat oleh komite UE untuk bahan aditif guar gum (E410). Guar gum (E410) biasanya ditemukan pada zat aditif dalam es krim, selai, daging, dan berbagai produk bahan kue yang biasa digunakan sebagai bahan pengemulsi.

Sejak Tahun 1981, beberapa negara di Eropa, seperti jerman telah menarik peredaran bahan pangan yang mengandung EtO di pasaran. Senyawa apakah etilen oksida, apa bahayanya dan bagaimanakah metode analisanya pada bahan makanan? Simak penjelasannya pada artikel ini.

Apa Itu Etilen Oksida??

Etilen Oksida (EtO) merupakan senyawa organik karbon dengan rumus molekul C₂H₄O. Senyawa dengan penamaan kimia oksirana ini memiliki karakteristik fisik berbentuk gas, tidak berwarna.  mudah terbakar pada suhu ruang, dan berbau manis.

EtO kerap digunakan sebagai pestisida pembasmi hama, namun pada beberapa negara, seperti India, AS dan Kanada digunakan sebagai bahan tambahan makanan untuk membunuh bakteri dan jamur pada makanan seperti biji wijen, kacang-kacangan dan guar gum. Di India, penggunaan Etilen Oksida sebagai fumigan pada biji wijen telah mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan EtO memiliki sifat antibakteri 10 kali lebih efektif dibandingkan metil bromide, sehingga mampu mengurangi potensi kontaminasi biji wijen dengan salmonella ataupun bakteri pathogen lainnya.

Bahaya Etilen Oksida

Etilen oksida memiliki efek toksistas yang tinggi, bersifat karsinogen dan mutagenik. Paparan dalam jangka pendek dapat menyebabkan depresi sistem saraf pusat dan iritasi selaput lendir seperti konjungtiva mata. Paparan kronis EtO pada manusia dilaporkan menyebabkan gangguan neurologis melalui kerusakan otak dan sistem saraf, bahkan pada tingkat yang rendah dosis paparan. Beberapa peneletian menunjukkan bahwa paparan mampu meningkatkan risiko limfoid dan kanker payudara.

Analisis Etilen Oksida pada bahan pangan

Ketatnya regulasi terhadap penggunaan Etilen Oksida pada bahan pangan khususnya di negara-negara Eropa, menjadikan analisis kandungan Etilen Oksida menjadi kebutuhan yang tinggi untuk dilakukan.

Berbagai literatur yang membahas mengenai analisis EtO, atau penjumlahan EtO dan 2-Chloroetanol (2 CE), diantaranya :

  • Pada tahun 1988, K.G. Jensen menerbitkan metode yang melibatkan konversi 2CE ke EtO dalam kondisi basa. EtO yang dihasilkan dibersihkan menggunakan aliran nitrogen ke dalam reservoir berair yang mengandung natrium iodida dan asam sulfat. EtO diubah menjadi iodoethanol, yang kemudian dipartisi menjadi etil asetat dan diukur melalui GC-ECD (Electron Capture Detector).
  • Pada tahun 1988, Aitkenhead et al. mempublikasikan metode untuk analisis 2-CE (dan 2-bromoethanol) dalam rempah-rempah. Analit diekstraksi dari sampel menggunakan campuran asetonitril dan metanol dan kemudian dianalisis menggunakan GC-FID.
  • Pada tahun 2006, Tadeo dan Bononi menerbitkan sebuah metode untuk analisis 2-CE dalam lada. Metodenya melibatkan konversi sisa EtO menjadi 2-CE, menggunakan asam sulfat dan natrium klorida, diikuti dengan ekstraksi total 2-CE dengan etil asetat, kemudian dilakukan proses evaporasi dam analisis menggunakan GC-MS.

UE menyatakan bahwa nilai limit deteksi instrument (LDI) EtO dan metabolitnya 2-Chlorethanol, yang dinyatakan sebagai EtO ialah 0,05 mg/kg. Sehingga dibutuhkan instrumen analisis dengan LDI kurang dari 0,05 mg/kg. Kandungan EtO pada bahan pangan dapat dianalisis dengan metode analisis secara instumentasi menggunakan Gas Chromatography (GC).

Terdapat dua merode standar yang digunakan untuk melakukan analisis EtO menggunakan Gas Chromatography yaitu :

  • Metode GC MS, publikasi tahun 1999

Metode ini dikembangkan oleh Pemerintah Jerman Tahun 1999. Penentuan EtO ditentukan sebagai jumlah Etilen Oksida dan 2-Kloroetanol. Hal ini didasarkan pada transisi 2-Kloroetano ke Etilen oksida diikuti oleh derivatisasi dengan iodida dan deteksi Iodidiethanol yang terbentuk dengan GC. Metode ini kurang efektif karena hanya enam sampel per hari yang dapat dilakukan oleh analis kompeten. Namun, ini adalah metode yang terbukti dapat mendeteksi EtO pada bahan makanan.

InjectorPTV (Programmable Temperature Vaporizing )
Injector ModeSplitless
Injection Volume1µl
Flow Control ModeConstant Flow
Column Flow1.00 ml/min
Carrier GasHelium 6.0
Total Run Time30 min
GC Program50 °C, 1 min (hold) with 25 °C/min, to 200 °C, 23 min (hold)
ColumnCarbowax, 30 m, 0.25 mm I.D., 0.25 µm film
GC MS Parameter
  • Metode GC MS/MS, (EC, 2020)

Metode ini pertama kali dikembangkan oleh pada Desember 2020. Agar mampu mendeteksi kandungan EtO pada kadar dibawah LDI 0,05 mg/kg dibutuhkan preparasi sampel khusus GC-MS/MS dalam SRM (Single-Reaction-Mode). Hasil analisis EtO dan 2 Chloroetani dengan metode QuOil atau metode QuEChERS menggunakan instrument GC-MS/MS yang diterbitkan oleh Europian commission dapat dibaca pada publikasi di http://EURL-SRM – Analytical Observations Report

Method TypeSelected-Ion-Monitoring (SIM)
MS transfer line temperature250 °C
Ion source temperature250 °C
IonizationEI
m/z IodidiethanolRT 6.44 min
127, 128, 141, 142, 172    

GC-MS/MS parameters

Hasil analisa Etilen Oksida pada bahan pangan dapat dilihat pada application note https://www.analyteguru.com/t5/Blog/Toxic-Gases-in-Food-and-the-Threat-of-Ethylene-Oxide/ba-p/13442

Referensi :

  1. Amtliche Sammlung von Untersuchungsverfahren nach §64 LFGB; Gaschomatographische Bestimmung von Ethylenoxid und 2-Chloroethanol in Gewürzen, 1999
  2. K.G. Jensen. 1988. Determination of ethylene oxide residues in processed food products by gas-liquid chromatography after derivatization. Z.
  3. Lebensm Unters Forsch 187, 535–540 (1988)
  1. https://www.eurl-pesticides.eu/library/docs/srm/EurlSrm_Observation_EO_V1.pdf
  2. Implementing Regulation (EU) 2020/1540
  3. https://www.analyteguru.com/t5/Blog/Toxic-Gases-in-Food-and-the-Threat-of-Ethylene-Oxide/ba-p/13442

Source img : https://depositphotos.com/stock-photos/haagen-dazs.html

https://ec.europa.eu/info/index_en

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">html</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*