Peran Digitalisasi Melahirkan Pola Kerja Baru

Halo, Labmate

Akselerasi kemajuan teknologi kini tengah menjadi mega tren yang berpotensi mengubah tenaga kerja menjadi jauh lebih akurat dan efisien. Revolusi digital yang kini sedang berperan, didefinisikan sebagai percepatan laju perubahan teknis dalam perekonomian (Eurofound, 2018). Tools yang digunakan untuk memproyeksikan praktik teknologi digital ini bervariasi, seperti komputerisasi, robotisasi, dan artificial intelligence atau kecerdasan buatan, serta otomatisasi. Sebagaimana yang dihadapi Indonesia maupun dunia saat ini, revolusi industri 4.0 telah mendorong inovasi-inovasi teknologi yang memberi dampak disrupsi atau perubahan fundamental terhadap kehidupan masyarakat. Bisa dikatakan sektor yang paling berimbas adalah pada aspek ketenagakerjaan. 

Digitalization

Teknologi digital memungkinan praktik kerja dengan pola baru, misalnya dalam penggunaan AI (Artificial Intelligence) untuk melakukan tugas-tugas kognitif seperti Chatbot atau dukungan online secara otomatis. Kemampuan komputer dalam mempelajari data (machine learning) pada manufaktur  yang didalamnya meliputi pemanfaatan data skala besar (big data), teknik penyimpanan data di awan (cloud computing), konektivitas internet (internet things) hingga menggunakan robot sebagai pekerja ber’tangan besi’ yang mampu bekerja lebih cepat dan akurat tanpa adanya resiko human error.

Era baru ini diklaim menjadi salah satu masa depan yang tengah dipromosikan. Pada konteks industri dan ketenagakerjaan, hantaman rasa pesimis akan nasib  masa depan pekerjaan telah disebar di antara pembuat kebijakan dan para  pebisnis. Mengutip dari World Economic Forum, diprediksi bahwa dalam 4 tahun ke depan, sedikitnya 75 juta pekerjaan akan mengalami perubahan dan 133 juta pekerjaan baru akan lahir sebagai wujud dari perkembangan teknologi. Dikatakan bahwa wilayah yang akan terkena dampak besar dari perubahan ini adalah Asia Tenggara. 

Seiring kemajuan teknologi, Asia Tenggara diprediksi akan mencoba beralih dari pekerjaan di bidang pertanian ke bidang yang lebih fokus pada layanan dalam beberapa tahun ke depan. Menurut laporan terbaru firma riset Oxford Economics dan perusahaan teknologi Amerika, Cisco, transisi tersebut dapat melahirkan 28 juta pekerjaan baru dalam 10 tahun berikutnya. Angka tersebut setara dengan sekitar 10 persen dari total penduduk yang bekerja di negara-negara seperti, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan Vietnam.

Digital Tech Talent

Kemudian hal yang dapat dipastikan adalah pergeseran akan mengarah pada munculnya karir baru di industri yang sedang tumbuh. Akan tetapi itu juga akan menyebabkan setidaknya  6,6 juta orang akan kehilangan pekerjaan oleh karena tidak memiliki keteramilan yang diperlukan. 

Sektor pertanian menyumbang sekitar 76 juta pekerjaan di kawasan ASEAN dan sepertiga dari jumlah tersebut adalah buruh, yang tentu merupakan golongan pekerjaan paling rentan terhadap perubahan teknologi oleh karena pekerjaan mereka berfokus pada rutinitas dan usaha fisik. Indonesia sebagai negara yang paling padat penduduknya di wilayah ASEAN, diprediksi akan menanggung dampak terbesar dari pengalihan pekerjaan.  

Kehadiran revolusi industri 4.0 yang kini sedang berlangsung memang menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat, khususnya Indonesia sebagai negara agraris. Mengutip dari karya tulis ilmiah milik Alfin Tofler berjudul “Future Shock” (1970)  dan sekuelnya “Third Wave”  dipaparkan secara garis besar tentang gambaran perkembangan kehidupan manusia yang bermula dari kehidupan masa agraris kemudian berkembang menjadi kehidupan masa industri dan kemudian memasuki masa informasi. Alfin Tofler berkeyakinan peradaban manusia akan berkembang sangat cepat, yang awalnya bermula dari masyarakat yang sangat sederhana (bercocok tanam), kemudian akan bertransformasi menjadi masyarakat yang super canggih dan sangat maju (masyarakat informasi).

Dari uraian diatas, sesungguhnya inovasi teknologi akan selalu memberi dampak terhadap hajat hidup manusia. Pun kemajuan teknologi telah memberi kontribusi pada kesejahteraan manusia, namun disaat yang bersamaan ,kecanggihan teknologi seperti memiliki kekuatan ilmu sihir jahat yang mengancam kebaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">html</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*