Tren Thrift Shop Bantu Upaya Pelestarian Alam

Sedikit orang yang menyadari bahwa kebiasaan dalam mengkonsumsi atau berbelanja pakaian baru turut berimbas pada kelestarian lingkungan. Mendapati tawaran potongan harga pada e-commerce ataupun toko, mudah untuk kita tergoda membelinya entah apakah pakaian tersebut benar-benar dibutuhkan atau tidak hanya demi mengikuti tren terbaru.

Thrift Shop

Hal tersebut seperti disampaikan oleh Aretha Aprillia, pakar manajemen limbah dan energi, bahwa kebiasaan masyarakat yang konsumtif dalam hal berpakaian turut berkontribusi pada menumpuknya limbah pakaian. 

Dalam industri tekstil terdapat sebuah fenomena yang dikenal dengan istilah fast fashion. Merupakan kegiatan dalam produksi berbagai model atau trend pakaian yang terus berganti secara cepat, serta menggunakan bahan-bahan yang berkualitas buruk, sehingga tidak awet dalam waktu lama.

Mungkin sebagian dari kita sudah mengetahui bahwa industri tekstil itu sendiri kebanyakan memberi dampak buruk bagi lingkungan, terutama penyebab polusi udara dan air. 

Hal tersebut dibuktikan dengan temuan Changing Markets Foundation yang dirilis pada Juni 2021 lalu bahwa industri tekstil bertanggungjawab atas lebih dari 20 persen polusi air di dunia. Dan yang lebih menyedihkan lagi, laporan dari International Union For Conservation Of Nature menunjukkan bahwa tekstil akan menjadi  sumber polusi mikroplastik laut terbesar di dunia.

Thrift Shop. Langkah Tepat Dalam Mengurangi Limbah Pakaian

Thrift Shopping, sebuah kegiatan berbelanja pakaian bekas layak pakai, belakangan menjadi tren di Indonesia, bahkan pada level multi nasional. Tersedianya pakaian bekas  dari merk-merk ternama dengan harga murah menjadikannya menarik perhatian bagi kebanyakan orang, Nyatanya, sadar atau tidak hal tersebut sangat membantu dalam upaya mengurangi limbah pakaian. 

Jika menilik dari fenomena fast fashion diatas, dimana pergantian tren pakaian sangat cepat berganti, menjadikan pakaian bekas kini tidak terlalu terlihat lusuh dan kumuh sehingga rasanya tidak sulit mendapatkan pakaian yang masih bagus dengan harga yang sangat terjangkau. 

Memilih berbelanja pakaian bekas atau thrift shopping ini adalah alternatif konsumsi pakaian yang lebih murah serta menunjang sustainable living. Menurut World Wide Fund For Nature (WWF)  sustainable living adalah sebuah gaya hidup yang menyeimbangkan upaya lokal dan global untuk memenuhi kebutuhan dasar dengan tetap melestarikan lingkungan alam dari degradasi dan kerusakan. 

Selain harga produknya yang lebih murah, thrift shopping telah membatasi konsumsi pakaian baru sehingga mengurangi penggunaan kapas, wol, bulu, kulit, sutra dan bahan alami atau sintetik lainnya yang digunakan dalam produksi pakaian jadi. Disaat banyak orang yang berbelanja pakaian bekas, mereka secara tidak langsung berperan besar dalam menjaga pakaian agar tidak dibuang ke tempat pembuangan sampah. 

Water Pollution

Industri fashion menjadi salah satu penyumbang utama polusi air, plastik, dan emisi gas rumah kaca. Mengutip dari theprettyplaneteer.com, limbah yang dihasilkan dari industri fashion rata-rata 31,75 kg pakaian per tahun. Secara global, industri fashion menghasilkan 13 juta ton limbah tekstil setiap tahun yang 95% diantaranya dapat digunakan kembali atau didaur ulang.

Maka dari itu, thrift shopping tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga mengurangi polusi. Bayangkan jika satu item pakaian dijual dan dibeli secara bekas, maka berkurang satu item pakaian yang diproduksi.  

Seiring dengan dunia yang berkembang kepada pola pikir yang lebih sadar akan lingkungan, masa depan toko barang bekas tampaknya bakal cerah. Demi menghentikan pencemaran lingkungan, maka sudah waktunya thrift shopping dapat dijadikan pertimbangan dalam berbelanja pakaian sekaligus menjaga kelestarian alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">html</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*